“SEMESTA BERDENDANK" Akting Hani Khumaira Sebagai Euis, Jadi Sorotan Utama

  • Apr 07, 2026
  • Admin : Riko Candra

JAKARTA, MIMBARNAGARI — Riuh tepuk tangan menggema di Taman Ismail Marzuki saat tirai pertunjukan musikal Pasar Dangdoet: Semesta Berdendank resmi ditutup. Pementasan ini tak sekadar meriah, tetapi benar-benar menghadirkan ledakan energi—memadukan dangdut dengan emosi, humor, dan realitas kehidupan yang terasa dekat dengan penonton.

Di antara puluhan pemain yang tampil, sorotan publik tertuju pada satu nama: Hani Khumaira. Remaja berusia 17 tahun itu sukses menghidupkan karakter Euis—tokoh utama perempuan—dengan penampilan yang memikat sejak awal pertunjukan.

Bukan hanya mengandalkan vokal kuat, Hani tampil dengan penghayatan yang matang. Aktingnya terasa natural, seolah penonton tidak sedang menyaksikan lakon, melainkan potret kehidupan yang benar-benar terjadi di atas panggung.

Gadis berdarah Minang ini juga membawa latar belakang yang tak bisa diabaikan. Ia merupakan putri dari Lisda Hendrajoni dan Hendrajoni, dengan darah seni yang mengalir dari sang ibu yang dikenal sebagai penyanyi religi. Bakat Hani sendiri sudah terlihat sejak usia sekolah, termasuk saat meraih juara lomba menyanyi di Al-Azhar dan memimpin kelompok vokal Rawdha Voice.

Kini, langkahnya di dunia seni kian serius. Selain menjalani aktivitas sebagai mahasiswi di Jakarta, Hani juga tergabung dalam Godslave Management yang berada di bawah naungan Atta Halilintar. Sejumlah tawaran peran film pun mulai berdatangan.

Namun di panggung “Semesta Berdendank”, Hani bukan sekadar pendatang baru. Ia tampil layaknya bintang utama yang siap melangkah lebih jauh di industri hiburan.
Bagi Hani, tampil di panggung besar seperti TIM menjadi pengalaman emosional tersendiri. Ia mengaku bangga sekaligus terharu bisa menjadi bagian dari produksi besar tersebut.

“Ini pengalaman yang luar biasa. Bisa tampil di panggung sebesar ini, dengan tim yang hebat, jadi momen yang sangat berharga buat saya,” ujarnya.

Musikal ini sendiri mengangkat cerita kehidupan pasar tradisional yang terhimpit arus modernisasi. Tokoh Adeng, yang bercita-cita menjadi aktor dan komika, harus berhadapan dengan realitas hidup serta tuntutan keluarga. Konflik yang hadir dikemas dengan musik dangdut, dialog ringan, dan emosi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar hiburan, “Semesta Berdendank” hadir sebagai cermin sosial—tentang mimpi yang kerap harus bernegosiasi dengan kenyataan, serta dinamika keluarga yang penuh harapan dan tekanan.

Produksi ini digarap melalui proses panjang selama tujuh bulan, melibatkan 42 pemain dan total 163 kru. Seluruhnya digerakkan oleh semangat kolektif “Semesta” dari Prasetiya Mulya, dengan misi menghidupkan kembali seni budaya Indonesia dalam kemasan modern.

Hasilnya pun tak hanya sukses di panggung, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Dina (27), salah satu penonton, mengaku terbawa emosi sepanjang pertunjukan.

“Pas lihat Euis tampil, merinding. Kita benar-benar ikut larut dalam ceritanya. Jarang teater musikal nasional bisa sekuat ini,” katanya.

Pada akhirnya, “Semesta Berdendank” membuktikan diri bukan sekadar pertunjukan biasa. Di balik gemerlap panggung, muncul satu nama yang mencuri perhatian—Hani Khumaira, sosok muda yang kini mulai membuka jalan sebagai bintang baru di dunia teater musikal Indonesia. RIKO